Beksan Suryawijaya merupakan salah satu dari deretan tari baru pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono X. Inovasi tari yang dilakukan rutin oleh Keraton Yogyakarta dewasa ini bukanlah proses yang sederhana. Interpetasi manuskrip sebagai sumber inspirasi penciptaan tari masih berlangsung hingga saat ini.

Beksan Suryawijaya berkonsep seperti Beksan Jebeng yang ditarikan oleh empat laki-laki (beksan sekawan). Tarian ini juga menggunakan properti utama berupa jebeng (semacam perisai). Jebeng yang digunakan berwarna hitam dengan hiasan bulu merak bergambar tokoh wayang. Beksan ini berkarakter halus, tetapi dibawakan dengan sikap gagah, salah satunya karena penggunaan jebeng tersebut.

Dalam beksan ini, terdapat dua macam perang yaitu perang alus dan perang nyata. Perang alus merupakan perang yang memiliki irama halus dan tidak tergesa-gesa. Sebaliknya perang nyata ditampilkan dalam gerak yang lebih dinamis. Perang alusan menggunakan ayak-ayak dan srepegan sebagai gendhing yang mengiringinya. Sementara, perang nyata menggunakan gendhing plajaran. Perang alus dilakukan sebelum perang nyata. Setelah perang nyata selesai, tarian diakhiri dengan mundhur gendhing. (Aim)

sumber : kratonjogja.id